Rabu, 18 Oktober 2017

FILOSOFI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM




FILOSOFI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Filsafat dan Teori MPI
Dosen Pengampu: Ibu Baqiyyatus Sholikhah
 




Oleh :
1.      M. LABIB SHOVAWI                      (1703036008)
2.      YOLLA                                              (1703036030)
3.      ANIS FITRIA                                                (1703036037)

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH dan KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM  NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2017




BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
            Dalam pendidikan, adanya berbagai macam masalah yang sifatnya filosofis juga serta hubungannya dengan tuhan dan alam semesta. Dalam hal ini, berkembang pula sistem-sistem berpikir yang bercorak filosofis, yang juga berpengaruh dalam pendidikan, atau paling tidak, akan memberikan corak tertentu bagi pelaksanaan pendidikan.
         Dalam kehidupan berkeluarga, berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara, manejemen merupakan upaya yang sangat penting untuk mencapai tujuan bersama. Pendidikan yang salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia sudah semestinya mendapat perhatian penting dalam hal manajemennya. Pendidikan yang baik merupakan tolak ukur bagi sebuah bangsa atau negara dalam hal kemajuan yang di capai tidak terkecuali dalam Islam.
         Pendidikan dalam Islam sudah semestinya dikelola dan di atur dengan sebaik-baiknya. Manajemen pendidikan Islam merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat dari keterbelakangan baik secara moral, materi, dan spiritual. Dalam Islam, manajemen adalah hal yang sangat penting. Dan terdapat beberapa nilai Islam dan landasan-landasannya dalam islam yang perlu kita kaji untuk dijadikan pondasi manajemen pendidikan yang akan dibahas langsung pada makalah ini.

B.     Rumusan Masalah

1.       Bagaimana pemikiran filosofi pendidikan islam dari beberapa tokoh filsafat islam?
2.       Bagaimana filosofi manajemen pendidikan islam?
3.       Apa saja filosofi prinsip-prinsip manajemen pendidikan islam dan penjelaannya?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pemikiran Para Tokoh tentang Filosofi Pendidikan Islam

            Kata filosofi atau filsafat berasal dari kata philos artinya cinta dan shopos artinya kebijakan. Jadi, filsafat adalah cinta terhadap kebijakan. Secara umum filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat tentang kebenaran sesuatu.
            Pendidikan islam adalah pendidikan islami, pendidikan yang punya karakteristik dan sifat keislaman, yakni pendidikan yang didirikan dan dikembangkan di atas dasar ajaran islam.[1] Dasar filosofis pendidikan Islam merupakan kajian filosofis mengenai pendidikan Islam yang didasarkan al-Qur’an dan al-Hadits dan pendapat para ahli, khususnya para sahabat nabi SAW sebagai sumber. Berikut beberapa ayat dan hadis yang didalamnya terdapat penjelasan tentang dasar atau landasan dalam Pendidikan Islam :
a)      Surat al-Baqarah: 129

 رَبَّنَا وَٱبعَث فِيهِم رَسُولا مِّنهُم يَتلُواْ عَلَيهِم ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلكِتَٰبَ وَٱلحِكمَةَ وَيُزَكِّيهِم إِنَّكَ أَنتَ ٱلعَزِيزُٱلحَكِيمُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”
 (QS. Al-Baqarah: 129)
b)      Hadis nabi muhammad SAW

يا أيها الناس أني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به، فلن تضلوا بعدي أبدا : كتاب الله و سنة نبيه

Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya aku (Muhammad SAW) telah meninggalkan wasiat kepada kalian, barangsiapa yang berpegang teguh kepadanya maka ia tidak akan pernah tersesat selamanya, wasiat itu adalah Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya” (HR. Bukhori dan Muslim)[2]

            Para filosof muslim telah menyumbangkan beberapa gagasannya atau pemikiran tentang pendidikan islam. Berikut beberapa pemikiran dari filosof muslim tentang filosofi pendidikan islam :

1)      Syed Muhammad al-Naquib al-Attas
            Syed M. Naquib Al-Attas ibn Ali ibn Abdullah ibn Muhsin al-Attas lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Al-Attas adalah anak kedua dari 3 bersaudara dan keturunan melayu juga. Dari keluarganya di bogor, dia memperoleh pendidikan dalam disiplin ilmu-ilmu keislaman, sedangkan dari keluarganya di johor, dia memperoleh pendidikan yang sangat bermanfaat baginya dalam mengembangkan dasar-dasar bahasa,sastra, dan kebudayaan melayu.
            Menurut al-Attas, pendidikan adalah penyemaian dan internalisasi (penanaman) adab dalam diri seseorang, oleh karena itu proses pendidikan disebut ta’dib.[3] Bagi al-Attas, pendidikan dalam arti islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusia, maka pengenalan dan pengakuan mesti diterapkan pada manusia. Hal ini berarti bahwa manusia mesti mengetahui tempatnya didalam tatanan kemanusiaan, dan ia harus memahaminya sebagai teratur hierarkhis dan sah ke dalam berbagai derajat keutamaan berdasarkan kriteria al-Qur’an tentang akal, ilmu, dan kebaikan, serta mesti bertindak sesuai dengan pengetahuan dengan cara yang positif dan terpuji. Pengenalan diri pribadi  yang dipenuhi dalam pengakuan diri inilah yang didefinisikan disini sebagai adab.
            Selanjutnya, inti beberapa konsep yang ditawarkan oleh Syed M. Naquib al-Attas tentang pendidikan dalam islam yang meliputi : konsep ta’dib (penanaman adab dalam konteks pendidikan), dasar dan peranan pendidik serta peserta didik dalam pendidikan, peranan bahasa (komunikasi), metode pendidikan (al-Attas menggunakan metode perumpamaan), dan terakhir kurikulum (materi) serta sistem pendidikan dalam islam. Sedangkan kesimpulan dari tujuan yang ingin dicapai dalam proses pendidikan islam menurut al-Attas ialah untuk memberi bekal kepada manusia untuk menjalani tugas-tugas yang diberikan Allah kepada manusia dan memberi bekal manusia dalam menjalani kehidupan, tidak hanya di dunia saja melainkan juga untuk kehidupan di akhirat nantinya.

2)      Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
            Ia adalah pakar pendidikan yang memiliki jabatan terakhir sebagai guru besar di Dar al-Ulum dan Kairo University. Ia menguasai beberapa bahasa di samping bahasa Arab, seperti bahasa inggris, Ibrani dan Suryani. ‘Athiyah al-Abrasyi memang diakui keberadaannya di kalangan pendidikan khususnya pendidikan islam. Beliau banyak di kenal para ahli dalam bidang pendidikan, dimana karya-karya beliau atau catatan (peninggalan) beliau banyak dipakai sebagai rujukan.
            Al-Abrasyi memberikan pengertian bahwa pendidikan islam mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan maupun dengan tulisan.[4] Al-Abrasy dalam kitab at-Tarbiyyah al-Islamiyah wa falsafatuha menyebutkan ada beberapa dasar-dasar pokok pendidikan islam. Antara lain :
a.       Tidak ada pembatasan umur untuk mulai belajar.
b.      Tidak ada batasan lamanya anak belajar di sekolah.
c.       Berbedanya cara yang digunakan dalam memberikan pelajaran.
d.      Dua ilmu jangan dicampur adukkan.
e.       Menggunakan contoh –contoh yang dapat di capai dengan panca indera untuk mendekatkan pengertian pada anak-anak.
f.       Meperhatikan pembawaan anak dalam beberapa mata pelajaran.
g.      Memulai dengan pelajaran bahasa arab kemudian al-Qur’an.
h.      Pengertian terhadap pembawaan insting anak-anak dalam pemilihan bidang pekerjaan .
i.        Permainan dan hiburan.
j.        Mendidik perasaan
Menurut al-Abrasy tujuan utama dari pendidikan islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, laki-laki maupun perempuan, memiliki jiwa yang bersih, kemauan yang keras, cita-citan yang benar dan akhlak yang tinggi, mengetahui arti kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, mengetahui perbedaan buruk dengan baik,memilih salah satu keutamaannya, menghindari suatu perbuatan yang tercela, dan mengingat Tuhan dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan.

3)      Muhammad Iqbal
            Muhammad Iqbal lahir pada tanggal 22 Februari 1873 dilahirkan di Punjab, lebih tepatnya di Sialkot, Pakistan. Keluarganya dari kasta Brahmana Kasmir yang telah memeluk agama islam sejak 3 abad sebelum ia di lahirkan. Kakeknya adalah Muhammad Rafiq, seorang sufi terkenal. Ayahnya Muhammad Noer seorang muslim yang sangat disiplin dalam kehidupan sufi.
            Dalam perspektif Iqbal, pendidikan tidak semestinya mengenal klasifikasi pendidikan timur dan barat atau agama dan sebagainya, karena justru akan semakin menjauhkan dari tujuan sebenarnya sebuah pendidikan. Iqbal memang tidak merumuskan teknik dan metode pendidikan secara operasional.[5] Namun, lebih berharga dari itu Iqbal telah membimbing perhatian kita pada prinsip-prinsip yang mendasar tentang pendidikan dan melandasi setiap pemikiran serta praktik     pendidikan secara tepat.
            Tujuan pendidikan islam menurut Muhammad Iqbal,yakni pendidikan manusia seutuhnya yang tidak saja memperhatikan aspek rohani juga jasmani dan akal. Dengan kata lain adalah pendidikan yang meletakkan landasan keseimbangan dan keserasian dari seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan memandang bahwa tidak ada dikotomi(pembagian yang bertentangan) antara ilmu agama dan ilmu lain.
           
4)      Imam Al- Ghazali
            Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali di lahirkan di Thus, sebuah kota di Khurasan, Persia. Pada tahun 450 H atau 1058 masehi. Al-Ghazali adalah seorang yang cerdas dan mampu mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan penalaran yang jernih sehingga imam Al juwaini sempat memberi predikat beliau itu sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat luas.
            Penngertian pendidikan menurut al-Ghazali adalah menghilangkan akhlak buruk dan menanamkan akhlak yang baik.[6] Seorang guru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan jika ia memahami secara filsafat, menurut imam al ghazali pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan untuk kebahagiaan dunia akhirat.
            Tujuan pendidikan yang diinginkan al ghazali adalah taqqarub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. dan kesempurnaan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Pemikiran Al Ghazali tentang pendidikan menonjolkan karakteristik religius, moralis dengan tidak mengabaikan urusan keduniaan sekalipun hal tersebut merupakan alat untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat. Dalam bukunya Ihya Ulum al-Din Al-Ghazali menyatakan sebagai berikut “dunia adalah ladang tempat persemaiaan benih-benih akhirat. Dunia adalah alat yang menghubungkan seorang dengan allah Swt. sudah barang tentu, bagi orang yang menjadikan dunia hanya sebagai alat dan tempat persinggahan, bukan bagi orang yang menjadikannya sebagai tempat tinggal yang kekal dan negeri yang abadi”.[7]

B.     Filosofi Manajemen Pendidikan Islam

            Istilah manajemen berasal dari bahasa inggris, yaitu dari kata kerja “to manage” yang sinonimnya antara lain “to hand” berarti mengurus, “to control memeriksa, “to guide” memimpin. Jadi, bila dilihat dari asal katanya manajemen dapat di artikan sebagai: mengurus, mengatur, melaksanakan dan mengelola. Sementara di Indonesia, menurut Uberet Silalahi (1989) di kenal dengan kata manajemen /managemen yang diterjemahkan ke dalam berbagai istilah seperti kepemimpinan, tata cara memimpin, pengaturan, pengelolaan, pengendalian, pengurusan, pembinaan, penguasaan dan lain sebagainya.[8]
            Manajemen pendidikan islam memilki prinsip dan karakteristik yang berbeda dari manajemen pendidikan karena merupakan hasil perpaduan antara kajian manajemen islam dan kajian pendidikan islam. Yang salah satu manfaat dan tujuannya adalah untuk beribadah kepada Allah swt dan dalam rangka membela dan menegakkan tujuan syari’at.
             Sedangkan penidikan dalam arti luas adalah segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai bagi anak didik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan itu menjadi bagian kepribadian anak yang pada gilirannya ia menjadi orang pandai, baik, mampu hidup dan berguna bagi masyarakat.
            Dari berbagai sudut pandang tentang manajemen islam dan pendidikan islam, diperoleh suatu pemahaman bahwa manajemen pendidikan islam adalah berbagai upaya yang dilakukan secara efektif dan efisiensi dengan di dasarkan pada prinsip iman dalam rangka mencapai tujuan pendidikan islam yaitu membentuk manusia seutuhnya, akal dan hatinya, ruhani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya.
            Dasar manajemen pendidikan Islam secara garis besar ada 3 (tiga) yaitu: Al-Qur’an, As-Sunnah serta perundang-undang yang berlaku di Indonesia.[9]
1.      Al-Qur’an
      Banyak Ayat-ayat Al-Qur’an yang bisa menjadi dasar tentang manajemen pendidikan Islam.Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan dasar manajemen pendidikan Islam adalah sebagai berikut :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

      Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam menegaskan tentang pentingnya manajemen, di antaranya manajemen pendidikan, lebih khusus lagi manajemen sumber daya manusia.
2.      As-Sunnah
      Rasulullah SAW adalah juru didik dan beliau juga menjunjung tinggi terhadap pendidikan dan memotivasi umatnya agar berkiprah dalam pendidikan dan pengajaran. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang menyembunyikan ilmunya maka Allah akan mengekangnya dengan kekang berapi ( HR. Ibnu Majah).
Berdasarkan pada hadits di atas, Rasulullah SAW memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan.

3.      Perundang-undangan yang Berlaku di Indonesia
      Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan dalam Pasal 30 ayat 1 bahwa:“Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundangundangan”. Disebutkan pula dalam Pasal 30 ayat 2 bahwa “Pendidikan keagamaan berfungsi menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama”.

C.     Filosofi Prinsip-prinsip Manajemen Pendidikan Islam
            Terdapat prinsip atau nilai Islam yang perlu kita kaji untuk di jadikan pondasi manajemen pendidikan, yaitu antara lain :[10]

a.       ‘Ilm
Adalah sebuah konsep pengelolaan yang mendasarkan semua pertimbangan, keputusan, sikap pada pengetahuan yang rasional dan logis. Pengetahuan dan keahlian ini juga harus mendasari setiap orang yang bekerja dalam organisasi pendidikan. Suatu organisasi tidak sesuai dengan prinsip islam jika konsep pengetahuan dan keahlian orang yang bekerja tidak merasa bahwa pengetahuan dan keahliannya adalah pemberian allah swt.
b.      ‘Adalah
Merupakan sebuah konsep yang mengajarkan umat islam untuk bertindak dan bersikap sesuai tanpa merugikan apalagi mengintimidasi pihak atau organisasi lain. Ali bin Abi Thalib memahami adil dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tokoh-tokoh muslim terdahulu diceritakan bersikap adil meskipun yang melakukan pelanggaran adalah keluarganya.
c.       Ukhuwah
Dikenal juga dengan persaudaraan atau semangat team work. Sebagai sebuah tim tidak seharusnya sesama muslim memperebutkan sesuatu yang tidak penting bahkan mengobarkan keutuhan organisasi pendidikan. Antar divisi harus saling memperkuat satu sama lainnya, bekerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan islam.
d.      Amanah
Adalah bentuk dari pertanggung jawaban seseorang atas tugas yang dipikulnya.  Amanah adalah upaya mencari keridhoan Allah dengan cara taat kepada perintah allah dan menjaga kepercayaan staf atau anggotanya. Seorang dapat dikatakan amanah jika dia meyakini bahwa dirinya  adalah wakil allah di bumi dan apa yang di lakukannya adalah bagian dari ibadah kepada allah. Semakin baik kinerjanya baik sebagai pemimpin atau sebagai staf, maka itu berarti dalam rangka beribadah kepada Allah, amanah seseorang bukan karena materi yang dibayarkan tapi karena kesadarannya sebagai hamba allah.
BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
      Pendidikan islam merupakan sebuah proses pengajaran dan bimbingan yang didasari norma-norma agama dengan tujuan terbentuknya manusia yang berkepribadian menurut syari’at islam. Dari pemikiran para tokoh filosof muslim dapat di simpulkan bahwa pendidikan, menurut al-Attas ialah terbentuknya manusia yang beradab, menurut al-Abrasyi adalah pendidikan dengan tujuan menjadikan manusia berakhlakul karimah, menurut Iqbal ialah pendidikan membentuk manusia secara utuh, menurut imam Al Ghazali pendidikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt.
      Manajemen pendidikan islam merupakan berbagai upaya yang di dasarkan pada prinsip iman dalam rangka mencapai tujuan pendidikan islam yaitu membentuk manusia yang seutuhnya, akal dan hatinya, ruhani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya.
      Terdapat prinsip-prinsip yang perlu dijadikan pondasi dalam manajemen pendidikan, yaitu ‘ilm artinya pengetahuan, ‘adalah artinya adil atau seimbang, ukhuwah artinya persaudaraan atau bekerja sama, amanah artinya pertanggung jawaban


B.     Kritik dan Saran
      Kami mohon kritik dan saran teman-teman, mungkin ada kesalahan penulisan atau penjelasan dari makalah ini.

















DAFTAR PUSTAKA




https://makalahnih.blogspot.co.id/2014/06/dasar-filosofis-pendidikan-islam.html
                          
As Said, Muhammad.2011.Filsafat Pendidikan Islam.Yogyakarta:MITRA PUSTAKA

Fahrurrozi.2015.Manajemen Pendidikan Islam.Semarang:Karya Abadi Jaya

Mulyadi,Ramayulis.2017.Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Jakarta: KALAM MULIA

Iqbal, Abu Muhammad.2015.Pemikiran Pendidikan Islam.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR

https://media.neliti.com/media/publications/58080-ID-konsep-manajemen-pendidikan-islam-perspe.pdf


[1] As Said, Muhammad.2011.Filsafat Pendidikan Islam.Yogyakarta:MITRA PUSTAKA.hlmn.10
[2] https://makalahnih.blogspot.co.id/2014/06/dasar-filosofis-pendidikan-islam.html

[3]Iqbal, Abu Muhammad.2015.Pemikiran Pendidikan Islam.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR.hlmn.285

[4] Iqbal, Abu Muhammad.2015.Pemikiran Pendidikan Islam.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR.hlm.566
[5] Iqbal, Abu Muhammad.2015.Pemikiran Pendidikan Islam.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR.hlm.272
[6] Iqbal, Abu Muhammad.2015.Pemikiran Pendidikan Islam.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR.hlm.90
[7] Iqbal, Abu Muhammad.2015.Pemikiran Pendidikan Islam.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR.hlm93-94

[8] Mulyadi,Ramayulis.2017.Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Jakarta: KALAM MULIA.hlm.23
[9] https://media.neliti.com/media/publications/58080-ID-konsep-manajemen-pendidikan-islam-perspe.pdf
[10] Fahrurrozi.2015.Manajemen Pendidikan Islam.Semarang:Karya Abadi Jaya

1 komentar: