FILOSOFI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Filsafat dan Teori MPI
Dosen Pengampu: Ibu
Baqiyyatus Sholikhah
Oleh :
1.
M. LABIB
SHOVAWI (1703036008)
2.
YOLLA (1703036030)
3.
ANIS FITRIA
(1703036037)
MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH dan KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pendidikan, adanya berbagai macam
masalah yang sifatnya filosofis juga serta hubungannya dengan tuhan dan alam
semesta. Dalam hal ini, berkembang pula sistem-sistem berpikir yang bercorak
filosofis, yang juga berpengaruh dalam pendidikan, atau paling tidak, akan
memberikan corak tertentu bagi pelaksanaan pendidikan.
Dalam kehidupan berkeluarga,
berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara, manejemen merupakan upaya yang sangat
penting untuk mencapai tujuan bersama. Pendidikan
yang salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia
sudah semestinya mendapat perhatian penting dalam hal manajemennya. Pendidikan
yang baik merupakan tolak ukur bagi
sebuah bangsa atau
negara dalam hal kemajuan yang di capai tidak
terkecuali dalam Islam.
Pendidikan
dalam Islam sudah semestinya dikelola dan di atur dengan
sebaik-baiknya. Manajemen pendidikan Islam merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan kualitas
kehidupan umat dari keterbelakangan baik secara moral, materi, dan
spiritual. Dalam Islam, manajemen adalah hal yang sangat penting. Dan terdapat beberapa nilai Islam dan landasan-landasannya
dalam islam yang perlu kita kaji untuk dijadikan pondasi manajemen pendidikan
yang akan dibahas langsung pada makalah ini.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana pemikiran filosofi pendidikan islam
dari beberapa tokoh filsafat islam?
2.
Bagaimana filosofi manajemen pendidikan islam?
3.
Apa saja filosofi prinsip-prinsip manajemen
pendidikan islam dan penjelaannya?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pemikiran
Para Tokoh tentang Filosofi Pendidikan Islam
Kata filosofi atau filsafat berasal
dari kata philos artinya cinta dan shopos artinya kebijakan. Jadi, filsafat
adalah cinta terhadap kebijakan. Secara umum filsafat adalah ilmu yang
mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat tentang kebenaran sesuatu.
Pendidikan islam adalah pendidikan
islami, pendidikan yang punya karakteristik dan sifat keislaman, yakni
pendidikan yang didirikan dan dikembangkan di atas dasar ajaran islam.[1] Dasar
filosofis pendidikan Islam merupakan kajian filosofis mengenai pendidikan Islam
yang didasarkan al-Qur’an dan al-Hadits dan pendapat para ahli, khususnya para
sahabat nabi SAW sebagai sumber. Berikut beberapa ayat dan hadis yang
didalamnya terdapat penjelasan tentang dasar atau landasan dalam Pendidikan
Islam :
a)
Surat al-Baqarah: 129
رَبَّنَا وَٱبعَث
فِيهِم رَسُولا مِّنهُم يَتلُواْ عَلَيهِم ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلكِتَٰبَ
وَٱلحِكمَةَ وَيُزَكِّيهِم إِنَّكَ أَنتَ ٱلعَزِيزُٱلحَكِيمُ
Artinya:
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang
akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka
al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (al-Sunnah) serta mensucikan mereka.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah: 129)
b)
Hadis nabi muhammad SAW
يا أيها الناس أني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به، فلن تضلوا بعدي أبدا : كتاب الله و سنة نبيه
Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya aku (Muhammad SAW) telah
meninggalkan wasiat kepada kalian, barangsiapa yang berpegang teguh kepadanya
maka ia tidak akan pernah tersesat selamanya, wasiat itu adalah Kitabullah dan
Sunnah nabi-Nya” (HR. Bukhori dan Muslim)[2]
Para filosof muslim telah
menyumbangkan beberapa gagasannya atau pemikiran tentang pendidikan islam.
Berikut beberapa pemikiran dari filosof muslim tentang filosofi pendidikan
islam :
1)
Syed Muhammad
al-Naquib al-Attas
Syed
M. Naquib Al-Attas ibn Ali ibn Abdullah ibn Muhsin al-Attas lahir pada 5
September 1931 di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Al-Attas adalah anak kedua dari
3 bersaudara dan keturunan melayu juga. Dari keluarganya di bogor, dia memperoleh
pendidikan dalam disiplin ilmu-ilmu keislaman, sedangkan dari keluarganya di
johor, dia memperoleh pendidikan yang sangat bermanfaat baginya dalam
mengembangkan dasar-dasar bahasa,sastra, dan kebudayaan melayu.
Menurut
al-Attas, pendidikan adalah penyemaian dan internalisasi (penanaman) adab dalam
diri seseorang, oleh karena itu proses pendidikan disebut ta’dib.[3] Bagi al-Attas, pendidikan dalam arti islam
adalah sesuatu yang khusus untuk manusia, maka pengenalan dan pengakuan mesti
diterapkan pada manusia. Hal ini berarti bahwa manusia mesti mengetahui
tempatnya didalam tatanan kemanusiaan, dan ia harus memahaminya sebagai teratur
hierarkhis dan sah ke dalam berbagai derajat keutamaan berdasarkan kriteria
al-Qur’an tentang akal, ilmu, dan kebaikan, serta mesti bertindak sesuai dengan
pengetahuan dengan cara yang positif dan terpuji. Pengenalan diri pribadi yang dipenuhi dalam pengakuan diri inilah yang
didefinisikan disini sebagai adab.
Selanjutnya,
inti beberapa konsep yang ditawarkan oleh Syed M. Naquib al-Attas tentang
pendidikan dalam islam yang meliputi : konsep ta’dib (penanaman adab
dalam konteks pendidikan), dasar dan peranan pendidik serta peserta didik dalam
pendidikan, peranan bahasa (komunikasi), metode pendidikan (al-Attas
menggunakan metode perumpamaan), dan terakhir kurikulum (materi) serta sistem
pendidikan dalam islam. Sedangkan kesimpulan dari tujuan yang ingin dicapai
dalam proses pendidikan islam menurut al-Attas ialah untuk memberi bekal kepada
manusia untuk menjalani tugas-tugas yang diberikan Allah kepada manusia dan
memberi bekal manusia dalam menjalani kehidupan, tidak hanya di dunia saja
melainkan juga untuk kehidupan di akhirat nantinya.
2)
Muhammad ‘Athiyah
Al-Abrasyi
Ia
adalah pakar pendidikan yang memiliki jabatan terakhir sebagai guru besar di
Dar al-Ulum dan Kairo University. Ia menguasai beberapa bahasa di samping
bahasa Arab, seperti bahasa inggris, Ibrani dan Suryani. ‘Athiyah al-Abrasyi
memang diakui keberadaannya di kalangan pendidikan khususnya pendidikan islam.
Beliau banyak di kenal para ahli dalam bidang pendidikan, dimana karya-karya
beliau atau catatan (peninggalan) beliau banyak dipakai sebagai rujukan.
Al-Abrasyi
memberikan pengertian bahwa pendidikan islam mempersiapkan manusia supaya hidup
dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna
budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam
pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan maupun dengan tulisan.[4] Al-Abrasy
dalam kitab at-Tarbiyyah al-Islamiyah wa falsafatuha menyebutkan ada beberapa
dasar-dasar pokok pendidikan islam. Antara lain :
a.
Tidak ada
pembatasan umur untuk mulai belajar.
b.
Tidak ada
batasan lamanya anak belajar di sekolah.
c.
Berbedanya
cara yang digunakan dalam memberikan pelajaran.
d.
Dua ilmu
jangan dicampur adukkan.
e.
Menggunakan
contoh –contoh yang dapat di capai dengan panca indera untuk mendekatkan
pengertian pada anak-anak.
f.
Meperhatikan
pembawaan anak dalam beberapa mata pelajaran.
g.
Memulai
dengan pelajaran bahasa arab kemudian al-Qur’an.
h.
Pengertian
terhadap pembawaan insting anak-anak dalam pemilihan bidang pekerjaan .
i.
Permainan dan
hiburan.
j.
Mendidik
perasaan
Menurut al-Abrasy tujuan utama dari
pendidikan islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup
menghasilkan orang-orang yang bermoral, laki-laki maupun perempuan, memiliki
jiwa yang bersih, kemauan yang keras, cita-citan yang benar dan akhlak yang
tinggi, mengetahui arti kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak
manusia, mengetahui perbedaan buruk dengan baik,memilih salah satu keutamaannya,
menghindari suatu perbuatan yang tercela, dan mengingat Tuhan dalam setiap
pekerjaan yang mereka lakukan.
3)
Muhammad
Iqbal
Muhammad
Iqbal lahir pada tanggal 22 Februari 1873 dilahirkan di Punjab, lebih tepatnya
di Sialkot, Pakistan. Keluarganya dari kasta Brahmana Kasmir yang telah memeluk
agama islam sejak 3 abad sebelum ia di lahirkan. Kakeknya adalah Muhammad
Rafiq, seorang sufi terkenal. Ayahnya Muhammad Noer seorang muslim yang sangat
disiplin dalam kehidupan sufi.
Dalam
perspektif Iqbal, pendidikan tidak semestinya mengenal klasifikasi pendidikan
timur dan barat atau agama dan sebagainya, karena justru akan semakin
menjauhkan dari tujuan sebenarnya sebuah pendidikan. Iqbal memang tidak
merumuskan teknik dan metode pendidikan secara operasional.[5]
Namun, lebih berharga dari itu Iqbal telah membimbing perhatian kita pada
prinsip-prinsip yang mendasar tentang pendidikan dan melandasi setiap pemikiran
serta praktik pendidikan secara tepat.
Tujuan
pendidikan islam menurut Muhammad Iqbal,yakni pendidikan manusia seutuhnya yang
tidak saja memperhatikan aspek rohani juga jasmani dan akal. Dengan kata lain
adalah pendidikan yang meletakkan landasan keseimbangan dan keserasian dari
seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan memandang bahwa tidak ada dikotomi(pembagian
yang bertentangan) antara ilmu agama dan ilmu lain.
4)
Imam Al-
Ghazali
Nama
lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali di lahirkan di
Thus, sebuah kota di Khurasan, Persia. Pada tahun 450 H atau 1058 masehi.
Al-Ghazali adalah seorang yang cerdas dan mampu mendebat segala sesuatu yang
tidak sesuai dengan penalaran yang jernih sehingga imam Al juwaini sempat memberi
predikat beliau itu sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat luas.
Penngertian
pendidikan menurut al-Ghazali adalah menghilangkan akhlak buruk dan menanamkan
akhlak yang baik.[6] Seorang
guru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan jika ia memahami secara filsafat,
menurut imam al ghazali pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Dan untuk kebahagiaan dunia akhirat.
Tujuan
pendidikan yang diinginkan al ghazali adalah taqqarub (mendekatkan diri)
kepada Allah swt. dan kesempurnaan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia
akhirat. Pemikiran Al Ghazali tentang pendidikan menonjolkan karakteristik
religius, moralis dengan tidak mengabaikan urusan keduniaan sekalipun hal
tersebut merupakan alat untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat. Dalam
bukunya Ihya Ulum al-Din Al-Ghazali menyatakan sebagai berikut “dunia
adalah ladang tempat persemaiaan benih-benih akhirat. Dunia adalah alat yang
menghubungkan seorang dengan allah Swt. sudah barang tentu, bagi orang yang
menjadikan dunia hanya sebagai alat dan tempat persinggahan, bukan bagi orang
yang menjadikannya sebagai tempat tinggal yang kekal dan negeri yang abadi”.[7]
B.
Filosofi
Manajemen Pendidikan Islam
Istilah
manajemen berasal dari bahasa inggris, yaitu dari kata kerja “to manage” yang
sinonimnya antara lain “to hand” berarti mengurus, “to control memeriksa, “to
guide” memimpin. Jadi, bila dilihat dari asal katanya manajemen dapat di
artikan sebagai: mengurus, mengatur, melaksanakan dan mengelola. Sementara di
Indonesia, menurut Uberet Silalahi (1989) di kenal dengan kata manajemen
/managemen yang diterjemahkan ke dalam berbagai istilah seperti kepemimpinan,
tata cara memimpin, pengaturan, pengelolaan, pengendalian, pengurusan,
pembinaan, penguasaan dan lain sebagainya.[8]
Manajemen
pendidikan islam memilki prinsip dan karakteristik yang berbeda dari manajemen
pendidikan karena merupakan hasil perpaduan antara kajian manajemen islam dan
kajian pendidikan islam. Yang salah satu manfaat dan tujuannya adalah untuk
beribadah kepada Allah swt dan dalam rangka membela dan menegakkan tujuan
syari’at.
Sedangkan penidikan
dalam arti luas adalah segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan
pengembangan manusia, yaitu upaya mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai bagi
anak didik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan itu menjadi
bagian kepribadian anak yang pada gilirannya ia menjadi orang pandai, baik,
mampu hidup dan berguna bagi masyarakat.
Dari
berbagai sudut pandang tentang manajemen islam dan pendidikan islam, diperoleh
suatu pemahaman bahwa manajemen pendidikan islam adalah berbagai upaya yang
dilakukan secara efektif dan efisiensi dengan di dasarkan pada prinsip iman
dalam rangka mencapai tujuan pendidikan islam yaitu membentuk manusia
seutuhnya, akal dan hatinya, ruhani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya.
Dasar
manajemen pendidikan Islam secara garis besar ada 3 (tiga) yaitu: Al-Qur’an,
As-Sunnah serta perundang-undang yang berlaku di Indonesia.[9]
1.
Al-Qur’an
Banyak Ayat-ayat Al-Qur’an yang bisa
menjadi dasar tentang manajemen pendidikan Islam.Di antara ayat-ayat Al-Qur’an
yang dapat dijadikan dasar manajemen pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ
لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ
لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا
إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Islam menegaskan tentang pentingnya manajemen, di antaranya manajemen
pendidikan, lebih khusus lagi manajemen sumber daya manusia.
2.
As-Sunnah
Rasulullah SAW adalah juru didik dan
beliau juga menjunjung tinggi terhadap pendidikan dan memotivasi umatnya agar
berkiprah dalam pendidikan dan pengajaran. Rasulullah SAW bersabda: Barang
siapa yang menyembunyikan ilmunya maka Allah akan mengekangnya dengan kekang
berapi ( HR. Ibnu Majah).
Berdasarkan
pada hadits di atas, Rasulullah SAW memiliki perhatian yang besar terhadap
pendidikan.
3.
Perundang-undangan
yang Berlaku di Indonesia
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional disebutkan dalam Pasal 30 ayat 1 bahwa:“Pendidikan
keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari
pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundangundangan”. Disebutkan pula
dalam Pasal 30 ayat 2 bahwa “Pendidikan keagamaan berfungsi menyiapkan peserta
didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai
ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama”.
C.
Filosofi
Prinsip-prinsip Manajemen Pendidikan Islam
Terdapat
prinsip atau nilai Islam yang perlu kita kaji untuk di jadikan pondasi manajemen
pendidikan, yaitu antara lain :[10]
a.
‘Ilm
Adalah sebuah konsep pengelolaan yang
mendasarkan semua pertimbangan, keputusan, sikap pada pengetahuan yang rasional
dan logis. Pengetahuan dan keahlian ini juga harus mendasari setiap orang yang
bekerja dalam organisasi pendidikan. Suatu organisasi tidak sesuai dengan
prinsip islam jika konsep pengetahuan dan keahlian orang yang bekerja tidak
merasa bahwa pengetahuan dan keahliannya adalah pemberian allah swt.
b.
‘Adalah
Merupakan sebuah konsep yang mengajarkan
umat islam untuk bertindak dan bersikap sesuai tanpa merugikan apalagi
mengintimidasi pihak atau organisasi lain. Ali bin Abi Thalib memahami adil
dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tokoh-tokoh muslim terdahulu
diceritakan bersikap adil meskipun yang melakukan pelanggaran adalah
keluarganya.
c.
Ukhuwah
Dikenal juga dengan persaudaraan atau
semangat team work. Sebagai sebuah tim tidak seharusnya sesama muslim
memperebutkan sesuatu yang tidak penting bahkan mengobarkan keutuhan organisasi
pendidikan. Antar divisi harus saling memperkuat satu sama lainnya, bekerja
sama untuk mencapai tujuan pendidikan islam.
d.
Amanah
Adalah bentuk dari pertanggung jawaban
seseorang atas tugas yang dipikulnya.
Amanah adalah upaya mencari keridhoan Allah dengan cara taat kepada
perintah allah dan menjaga kepercayaan staf atau anggotanya. Seorang dapat
dikatakan amanah jika dia meyakini bahwa dirinya adalah wakil allah di bumi dan apa yang di
lakukannya adalah bagian dari ibadah kepada allah. Semakin baik kinerjanya baik
sebagai pemimpin atau sebagai staf, maka itu berarti dalam rangka beribadah
kepada Allah, amanah seseorang bukan karena materi yang dibayarkan tapi karena
kesadarannya sebagai hamba allah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan islam merupakan sebuah proses
pengajaran dan bimbingan yang didasari norma-norma agama dengan tujuan
terbentuknya manusia yang berkepribadian menurut syari’at islam. Dari pemikiran
para tokoh filosof muslim dapat di simpulkan bahwa pendidikan, menurut al-Attas
ialah terbentuknya manusia yang beradab, menurut al-Abrasyi adalah pendidikan
dengan tujuan menjadikan manusia berakhlakul karimah, menurut Iqbal ialah
pendidikan membentuk manusia secara utuh, menurut imam Al Ghazali pendidikan
dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt.
Manajemen pendidikan islam merupakan berbagai
upaya yang di dasarkan pada prinsip iman dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan islam yaitu membentuk manusia yang seutuhnya, akal dan hatinya,
ruhani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya.
Terdapat prinsip-prinsip yang perlu
dijadikan pondasi dalam manajemen pendidikan, yaitu ‘ilm artinya
pengetahuan, ‘adalah artinya adil atau seimbang, ukhuwah artinya
persaudaraan atau bekerja sama, amanah artinya pertanggung jawaban
B. Kritik dan Saran
Kami mohon kritik dan saran teman-teman,
mungkin ada kesalahan penulisan atau penjelasan dari makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
https://makalahnih.blogspot.co.id/2014/06/dasar-filosofis-pendidikan-islam.html
As Said, Muhammad.2011.Filsafat
Pendidikan Islam.Yogyakarta:MITRA PUSTAKA
Fahrurrozi.2015.Manajemen
Pendidikan Islam.Semarang:Karya Abadi Jaya
Mulyadi,Ramayulis.2017.Manajemen
dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Jakarta: KALAM MULIA
Iqbal, Abu Muhammad.2015.Pemikiran Pendidikan Islam.Yogyakarta:PUSTAKA
PELAJAR
https://media.neliti.com/media/publications/58080-ID-konsep-manajemen-pendidikan-islam-perspe.pdf
[2]
https://makalahnih.blogspot.co.id/2014/06/dasar-filosofis-pendidikan-islam.html
[3]Iqbal, Abu Muhammad.2015.Pemikiran
Pendidikan Islam.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR.hlmn.285
[4] Iqbal, Abu Muhammad.2015.Pemikiran
Pendidikan Islam.Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR.hlm.566
[9] https://media.neliti.com/media/publications/58080-ID-konsep-manajemen-pendidikan-islam-perspe.pdf
bagusss kelompok teori mpi 5
BalasHapus